KULON PROGO (Eksplore.co.id) – Peringatan Hari Wayang se Dunia yang jatuh pada tanggal 7 November dari tahun ke tahun selalu semarak. Tahun ini, giliran Bandara International Yogyakarta (YIA) merangkul 22 seniman perupa spesialis dunia wayang dalam sebuah pameran seni rupa bertajuk  “Kita Adalah Wayang”.

Belajarnya dari filosofi wayang, yang berarti wewayanganing ngaurip yaitu gambaran kehidupan manusia dengan segala permasalahan dan tantangan. “Bandara YIA yang mempunyai posisi strategis di wilayah tengah dan selatan pulau Jawa, sekaligus Jogja sebagai pusat budaya, turut hadir sebagai ikon budaya dengan memberi kesempatan 22 seniman berpameran,” ujar Stake Holder Relation Manager PT Angkasa Pura 1 Ike Yutiane Purwanita saat pembukaan pameran.

Puluhan lukisan bertema wayang itu digelar di selasar keberangkatan penumpang selama sebulan penuh sejak 16 Oktober hingga 15 November 2021. Para seni rupawan wayang, ini kata Bupati Purworejo Agus Bastian MM, termasuk kelompok masyarakat terdampak pandemi covid-19. “Dengan pameran ini diharapkan memberikan harapan dan semangat seniman untuk terus kreatif berkarya,” kata Bupati Purworejo yang membuka pameran.

Di antara 22 perupa, adalah; Nasirun, ki Lutfi Caritogomo, Brigjen Chrishnanda Dwi Laksono, Iskandar Harjodimulyo, V. Rommy Iskandar,  Setyowati, Wasis Subroto, Irawan Hadi, dan Agus Nuryanto.

Iskandar Harjodimulyo sendiri memajang wayang uwuh dan lukisan kaca. Salah satu karya yang dipajang berjudul “Bumi pun Untal”, menggambarkan keserakahan. Korupsi merupakan perilaku yang banyak merugikan orang banyak.

Lukisannya yang berjudul “Pahlawan Lingkungan” menceritakan kerusakan lingkungan hidup yang berakibat adanya perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik alam, kimiawi atau hayati yang mengancam kehidupan. “Maka,” kata Iskandar, “diperlukan perjuangan pemulihan lingkungan hidup dengan mendekatkan pelestarian. Mengurangi limbah. perbanyak menanam pohon serta memanfaatkan limbah menjadi emas.”

Pengalaman berpameran bagi Iskandar cukup banyak, baik di dalam maupun luar negeri. Saat berpameran di Paris, lukisannya mendapat penghargaan juara 1.  “Saya banyak mengambil tema kemanusiaan dan lingkungan hidup,” kata Iskandar.

Karya lukisan Agus Nuryanto berjudul “Menjauh mendekat”  menggambarkan sosok wayang sedang bermain ponsel. Pada jaman sekarang ponsel sudah menjajah kehidupan kita.

HP juga mempermudah komunikasi. Mendekatkan yang jauh jadi dekat tetapi fitur fitur canggih dengan permainan game game juga dapat meracuni generasi muda.

Satu lagi, ini karya Rommy Iskandar, “Urip Mampir ngombe”, menggambarkan hidup hanya menumpang minum, dunia hanya persinggahan.

Lelang dan Berkarya

Pameran bertema Hari Wayang ini sudah digelar yang keenam kalinya. Untuk Pameran kali ini, kata Taufik Ridwan, CEO Dini Art Production, pihak penyelenggara juga memberi kesempatan pemirsa untuk melihat para seniman melukis dengan model sosok wayang yang sudah disediakan, yaitu para duta wisata atau pejabat  yang mengenakan pakaian wayang. Ada juga pelajaran mematung.

Semua karya akan dilelang pada 14 November. “Kita ingin mengedukasi masyarakat untuk selalu mencintai budaya dan kebudayaan Bangsa Indonesia,” ujar Taufik. (b)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini