oleh Iko Musmulyadi*

CERITA tentang polisi di negeri ini adalah cerita horor, mengenaskan, mengerikan. Alih-alih mengayomi, melindungi, dan menjaga Ibu Pertiwi sehingga masyarakat menjadi aman, nyaman, tertib, dan terlindungi. Malah sebaliknya, ulah oknum polisi memilukan hati, bikin heboh dan geger seantero negeri.

Polisi membunuh polisi. Polisi jadi beking judi. Polisi menjual barang bukti. Polisi terlibat bisnis haram narkoba. Menjijikan. Berikutnya, entah cerita apalagi tentang terbongkarnya borok polisi. Apa yang muncul di permukaan hari ini dan terberitakan oleh media, bisa jadi gambaran sebuah gunung es dari kebobrokan aparat hukum kita. Ngeri. Sangat mengerikan.

Potret buruk polisi hari ini semakin membuat Korps Bhayangkara itu kian terpuruk. Kepercayaan publik berada di titik nadir. Tingkat kepercayaan publik terjun bebas dari 80,2% pada November 2021 menjadi 54% pada Agustus 2022.

Kinerja Polri diragukan, dugaan publik kian mendekati kenyataan, bahwa sebagai penegak hukum sering kali bergantung pada apakah suatu perkara mendapat perhatian masyarakat dan media, mendapat atensi dari pimpinan, dan adanya faktor nonyuridis berupa intervensi uang dari pihak-pihak yang beperkara.

Mestinya, sebagai satu-satunya institusi penegak hukum yang juga menjalankan fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakkan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat (Pasal 2 UU Kepolisian), semua jajaran di institusi Polri wajib menjaga marwah, citra, dan profesionalismenya. Dari semua tugas konstitusionalnya sebagai “alat negara” yang dimanatkan Pasal 30 Ayat 4 UUD 1945, fungsi penegakkan hukum sesungguhnya merupakan wajah utama dari Polri.

Seolah hujan sehari menghapus kemarau setahun. Perilaku oknum polisi saat ini telah meruntuhkan kepercayaan publik selama ini. Orang memilih menghindar, menjauh dari berurusan dengan polisi. Sudah jadi rahasia umum ketakutan orang berurusan dengan polisi, daripada lapor ayam hilang kambing, lapor kambing hilang sapi, lapor motor hilang mobil. Mending pasrah, diam saja.

Hari-hari ini publik NKRI disuguhi aneka berita tragedi yang melibatkan sekelas jendral polisi menjadi pelaku kejahatan. Belum lagi cerita-cerita oknum polisi lainnya. Sampai-sampai ada yang memplesetkan istilah NKRI dengan Negara Kepolisian Republik Indonesia.

Belum kering air mata korban Kanjuruhan akibat malpraktek polisi dalam menangani kerusuhan stadion sepakbola. Menembakkan gas air mata ke arah ribuan suporter Aremania. Lebih dari 200 orang tak berdosa melayang nyawa sia-sia, ratusan lainnya terluka. Kesalahan polisi, tidak saja melanggar peraturan FIFA, gas airmata yang kadaluarsa diarahkan oleh petugas polisi secara membabi buta menjadi pemicu kematian massal itu. Publik sepakbola berduka. Semua kita menyayangkan peristiwa naas itu terjadi.

Tetiba kita dikagetkan dengan kasus Teddy Minahasa. Seperti kasus Sambo yang kemudian menyeret puluhan polisi diperiksa karena terlibat pembunuhan itu. Kasus Teddy juga mengakibatkan beberapa polisi lainnya ditindak karena ikut terlibat. Seperti sesuatu yang tidak mungkin, jika kejahatan yang terjadi di tubuh polisi, dilakukan oleh oknum seorang diri.

Tak lama lagi kita akan menggelar pesta demokrasi. Negeri ini membutuhkan apparat penegak hukum yang kuat dan profesional untuk menghadirkan proses demokrasi terbaik. Ada waktu 2 tahun ke depan bagi Kapolri untuk bersih-bersih dalam internal Polri. Syukur jika berjalan mulus. Jika gagal taruhannya sangat mahal.

Kaitan antara polisi dan nasib demokrasi ke depan. Perlu jadi perhatian kita bersama, apa yang diungkap oleh peneliti asing Aaron Connelly dalam akun sosial medianya menyoroti soal hubungan dekat yang unik antara Jokowi dan Polisi dan menyebut bahwa polisi sekarang bertindak sebagai kekuatan kemanan dan politik, aktif membangun kasus hukum melawan lawan pemerintah dan membungkam kritik. “Jokowi has been building uniquely close relationship with the police…The police now act as both security and political force, actively building legal cases against government opponents (and) silencing critics…” demikian unggahan akun @ConnellyAl

*Presiden Forum Cilegon.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini