KENICHI Ohmae tahun 1980  menulis buku The Borderless World. Ahli fisika nuklir asal Jepang ini, menganalisis bahwa ekonomi dunia  sedang menuju dunia tanpa batas (borderless world). Prediksi  Ohmae itu, kini sudah jadi kenyataan. Saat ini, sedang berlangsung di tengah kita.

Kredo ekonomi tanpa batas yang dicetuskan Ohmae tersebut,  now tengah  menunjukkan jati dirinya di World Cup Qatar 2022. Seluruh mata dunia kini sedang tertuju pada final World Cup Minggu (18/12/022) malam di Qatar, antara Prancis dan Argentina.

Prancis dan Argentina adalah legenda sepak bola dunia. Kedua negara ini mempunyai pemain-pemain bola yang punya skill spektakuler.   Dalam World Cup Qatar,  pinjam kolumnis Denny JA, yang terjadi adalah adu permainan antara dua legenda bola tersebut. Dalam hal ini, secara spesifik adalah “pertarungan skill mengolah bola”  antara  Mbappe dan Messi – dua mega bintang dari  Prancis dan Argentina.

Lalu siapa pemenang sejatinya? Mbappe? Messi?  Prancis? Argentina? Di sinilah kita bisa melihat betapa dunia  ekonomi telah “menghilangkan batas-batas negara” serta individu seperti ditulis Ohmae.

Lionel Messi dan Kylian Mbappe sebetulnya dua pemain bintang dari kesebelasan yang sama, Paris Saint-Germain FC, Liga Prancis. Dengan demikian, sejatinya World Cup 2022 adalah “pertandingan dalam negeri” PSG yang berbasis di Prancis.  Ada pun “ringnya” di Qatar.

Persoalannya, siapa pemilik PSG? Ternyata bukan Prancis. Tapi Qatar itu sendiri. Tepatnya Qatar Sports Investments (QSI).

QSI adalah kendaraan investasi yang didanai oleh pemerintah  Qatar, yang berfokus pada sektor olahraga dan leisure. QSI terafiliasi dengan sovereign wealth fund (SWF) dari  Qatar Investment Authority (QIA) milik monarki Timur Tengah yang kaya minyak dan gas itu. Saat ini, merujuk  berbagai sumber, QIA memiliki aset sekitar  300 miliar USD. QIA mempunyai  aset (saham)  di berbagai perusahaan besar  di seluruh dunia,  antara lain di Empire State Realty Trust, Uber,  Asia Square, mobil  listrik China Xpeng Inc, Qatar Airways, dan Ooredoo Hutchison — Indosat.

Yang disebut terakhir ini, QIA pemegang saham mayoritas (65%). Sehingga pelanggan Indosat di Indonesia turut “membayar” Messi dan Mbappe. Tapi jangan lupa, bola yang dipakai di World Cup Qatar adalah made in Madiun, Jawa Timur.

QSI membeli  PSG pada 30 Juni 2011 dari perusahaan investasi asal Amerika Serikat Colony Capital.  Harian  Le Monde menulis, QSI menggelontorkan uang sekitar 130 juta USD untuk membeli  klub bola tersebut.  Setelah PSG dikuasai penuh QSI, klub kaya itu “membajak” sejumlah bintang lapangan hijau seperti Thiago Silva, Zlatan Ibrahimovic, hingga David Beckham dari berbagai klub di  Eropa.  Selanjutnya, PSG “memborong” pemain-pemain bintang yang mahal seperti Neymar (dari Barcelona), Sergio Ramos (Sevilla), Gianluigi (AC Milan), Achraf Hakimi (Inter Milan),  Messi (Barcelona), Mbappe (AS Monaco), dan lain-lain. Di tangan QSI itulah, PSG  tumbuh menjadi klub yang disegani di Eropa. Karena PSG bertabur bintang.

Kembali ke Qatar. Qatar adalah negara kecil seluas 11.586 kilometer persegi – hampir sama dengan provinsi Banten — dengan jumlah penduduk 2,9 juta jiwa,  85-88 persennya adalah imigran. Penduduk aslinya  hanya sekitar 300.000-an. Negeri ini mempunyai cadangan minyak 15 miliar barel. Selain minyak, Qatar adalah salah satu negara dengan cadangan gas alam terbesar di dunia:  2,4 triliun  meter kubik. Cadangan gas alam Qatar hanya kalah dari Rusia (38 triliun meter kubik) dan Iran (32 triliun meter kubik).

Negara seluas Provinsi Banten ini sangat mengandalkan tenaga kerja asing.  Pekerja migrannya mencapai 86% dari total tenaga kerja yang ada. Dengan kondisi seperti itu, Qatar sering dijuluki sebagai negara “konfederasi serikat dagang internasional” dengan basis produksi minyak dan gas.

Sebagai negara yang amat kaya, tulis majalah The New Yorker, Qatar  menggelontorkan uang 200 miliar USD untuk World Cup. Tapi biaya mahal Word Cup tersebut terkompensasi dengan popularitas Qatar di dunia internasional.

Setidaknya, sejarah telah mencatat, Qatar adalah negeri Asia pertama yang berhasil menyelenggarakan World Cup secara mandiri. Tahun 2002, Jepang dan Korea Selatan memang menjadi tuan rumah World Cup. Tapi keduanya berkolaborasi. Sedangkan Qatar, negeri kecil dengan penduduk 2,9 juta jiwa itu, mampu melaksanakannya sendirian. Luar biasa.

Pasca World Cup, niscaya popularitas Qatar akan melangit.  Qatar – pinjam  istilah The New Yorker – telah berhasil menjadikan World Cup sebagai “soft power” yang menjadi  pusat perhatian dunia. Dan pastinya,  berkat World Cup itu pula, sebagai salah satu negara terkaya di dunia,  pengaruh Qatar akan makin luas. Ujungnya, ekonomi Qatar pun akan makin maju. Menembus batas dan mengglobal. Menuju borderless world!

*Dr. H.M. Amir Uskara, ekonom,
anggota DPR RI/Ketua Fraksi PPP

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini