PERKENALAN saya dengan internet pertama kali ketika berkunjung ke Amerika Serikat pada 1994.

Waktu itu pengetahuan tentang internet masih gelap bagi kebanyakan kita di Indonesia.

Saya membeli banyak buku tentangnya dan diskusi antara lain dengan @⁨Bambang Harymurti⁩, wartawan Tempo senior saya, yang waktu itu mukim di Washington DC.

Sebelumnya, saya juga belajar desktop publishing berkat Harymurti. Dia mendatangkan komputer Apple Macintosh generasi paling awal untuk Majalah Tempo.

Desktop publishing salah satu revolusi penting dunia penerbitan. Sebelum itu, saya bikin majalah kampus dengan mesin stensil yang membuat tangan belepotan tinta.

Kembali ke Indonesia pada 1994, saya belajar lebih jauh tentang internet yang kelak akan merevolusi dunia penerbitan lebih jauh lagi. Saya belajar tentang bahasa pemrograman internet seperti HTML, CGI, Java dan PHP script. Belajar membuat database dengan MySQL.

Pada waktu itu internet masih gelap bagi banyak orang. Saya masih ingat mas Goenawan Mohamad, Pemimpin Redaksi Tempo, bertanya: “Rid, apa sih browser itu?” Se-elementer itu.

Browser adalah aplikasi untuk mengakses internet. Aplikasi yang terkenal saat ini adalah Chrome dan Mozilla yang banyak orang pakai secara luas tanpa mereka tahu namanya. Dulu cuma ada browser Mosaic, kemudian Netscape.

Saya sudah membuat website pada 1996 (salah satu yang pertama di Indonesia), memakai HTML, bahasa pemrograman paling “primitif”, dengan coding yang melelahkan.

Kini kita sudah sampai pada HTML 5, dan bikin website semudah memencet tombol plug and play.

Hype dan Bubble

Kita sudah menyaksikan bagaimana internet lahir dan tumbuh. Juga bagaimana belakangan internet dijajakan secara hype sebagai solusi semua hal, seolah obat sapujagat, panasea, yang paripurna.

Berkat hype, kita menyaksikan pasang naik perusahaan-perusahaan digital yang harga sahamnya meroket sampai tahap tidak masuk akal. Hanya untuk kemudian crash dan flop dalam internet bubble.

Hype serupa kini sedang dijajakan untuk Revolusi 4.0 dan metaverse, atau crypto. Atau tentang model online ride-sharing semacam Grab, GoJek dan Uber. Yang terakhir ini bahkan membuat Presiden Jokowi demikian kagum serta memasukkannya dalam elemen kebijakan publiknya.

Crypto crash dan model ride-sharing kini mengalami layoff besar-besaran.

Di lain pihak, revolusi digital juga dipertanyakan janjinya sebagai solusi segala hal.

Muncul pertanyaan, misalnya, apakah revolusi digital meningkatkan kualitas jurnalistik? Apakah itu membuat kita makin berpengetahuan? Atau justru mendorong polarisasi politik tidak bermutu?

Toko online dipertanyakan dalam kapasitasnya menciptakan kesejahteraan warga.

Tanpa dibarengi penguatan produksi dalam negeri, kemudahan berbelanja hanya mempermudah impor barang, memperbesar defisit perdagangan. Serta menjadikan kita sekadar pasar atau konsumen. Di mana letak kemajuannya?

Bank/pinjaman online memperburuk masalah keuangan di masyarakat yang memicu problem-problem sosial lain.

Ada banyak yang menjadi pintar karena internet, yang kemudian memperkaya inovasi lain. Tapi, berapa lebih banyak lagi yang terjerat candu judi atau game online?

Kecanduan media-sosial memunculkan masalah sosial. Membuat kita makin kurang pengetahuan, apalagi kearifan, justru di tengah banjir informasi.

Ini membawa dampak lebih jauh dalam kehidupan politik. Demokrasi yang sehat bersandar pada informed-citizen, yakni warga yang punya pengetahuan untuk bisa berpartisipasi dalam kebijakan publik.

Media sosial mengurangi kapasitas itu. Kita bisa mengakses begitu banyak informasi, ironisnya justru seringkali informasi superfisial yang “viral” ketimbang substantif, tanpa sempat menginternalisasinya menjadi pengetahuan, apalagi kesadaran dan kearifan.

Silicon Snake Oil

Internet dan media sosial punya banyak manfaat. Sampai sekarang saya masih mendesain website, serta memakai facebook, twitter dan instagram.

Tapi, menurut saya, itu bukan segalanya. Kita juga harus menimbang manfaat dan dampak buruknya.

Meski suka internet, salah satu buku yang saya baca pada awal kehadiran internet adalah Silicon Snake Oil: Second Thoughts on the Information Highway.

Buku itu menunjukkan bagaimana internet dijajakan berlebihan oleh promotor Lembah Silikon sebagai solusi segala hal. Sama seperti “obat minyak ular” dijajakan di pasar sebagai obat segala penyakit.

Buku itu berisi catatan kritis yang mempertanyakan janji “kemajuan teknologi digital” sebagai solusi digdaya semua aspek kehidupan.

Tentang media-sosial, saya juga membaca banyak artikel kritis. Misalnya tentang pertobatan para perancang facebook yang belakangan menyesali hasil karyanya.

Facebook dan platform media-sosial lain dirancang sebagai bentuk “attention-based economy”.

Perusahaan ini menangguk keuntungan dari atensi atau perhatian yang kita berikan, dengan menekan timbol like atau share. Itu sebabnya, dengan kesadaran penuh lewat kajian psikologi perilaku, platform media sosial dirancang untuk membuat orang mencandu.

Ketika mencandu, kita cenderung mengabaikan aktivitas lain atau mengurangi perhatian kepada hal-hal yang lebih urgent/substansial.

Media sosial mempermudah interaksi sosial namun interaksinya cenderung superfisial.

Para ilmuwan yang mendewakan sains-teknologi, khususnya revolusi digital, mengatakan meski ada kelemahan dan dampak buruk, sains adalah sistem yang hebat karena bisa mengoreksi diri-sendiri.

Masalahnya, koreksi sering mucul setelah pilihan sains-teknologi tertentu membuat kerusakan besar yang sulit diperbaiki.

Contoh klasik lain adalah “revolusi hijau” dalam pertanian. Berpuluh tahun lalu, ini dipromosikan sebagai kemajuan teknik pertanian sekaligus solusi ampuh melawan kelaparan dan kemiskinan.

Terbukti kini, revolusi hijau merusak alam lewat pemakaian pupuk dan pestisida pabrikan, atau lewat rekayasa genetika bibit dan pertanian skala besar yang cenderung monokultur.

Janji kosong ketahanan pangan dibayar mahal dengan ketergantungan pupuk dan bibit pada perusahaan-perusahaan multinasional; pada menyusutnya keragaman pangan serta keragaman hayati; pada kerusakan alam; dan bahkan pada sumbangan besar pertanian terhadap krisis iklim global.

Pilihan sains dan teknologi, khususnya dalam kaitan kebijakan publik, harus dipikirkan dan ditimbang lebih masak dari awal. Tidak semestinya hanya mengikuti hype, trend atau mantra palsu “kita harus ikut kemajuan teknologi”.

Dalam penerapannya, kita harus memilih produk sains dan teknologi yang sesuai dengan problem, potensi dan keterbatasan yang kita hadapi.

Belajar Dari Gandhi

Teknologi adalah soal pilihan, bukan keniscayaan hidup-mati. Dan bukan segalanya.

Meski ada teknologi revolusi 4.0, kita bisa memilih tidak memakainya dengan menimbang realitas ekonomi-sosial-budaya negeri kita. Kita masih bisa memakai teknologi 2.0 atau bahkan 1.0.

Itulah yang dilakukan Mahatma Gandhi. Dia melawan penjajahan Inggris dengan menenun pakaiannya sendiri menggunakan tangan, teknologi paling primitif.

Gandhi melawan industri tekstil di Manchester atau Liverpool yang produknya banjir ke India dan menjadikan warga India sekadar pasar yang tergantung penguasa kolonial.

Bekeliling Indonesia beberapa bulan ini saya menyaksikan, banyak perempuan masih memintal benang dan menenun kain dengan teknologi sederhana yang dibuat sendiri, dari bahan yang tersedia di desa mereka. Itu bukan keterbelakangan. Justru kemerdekaan.

Teknologi, termasuk teknologi digital, cuma alat dan kita bisa memilih untuk memakainya atau tidak memakainya, berdasar pertimbangan independen kita.

Teknologi juga bukan segalanya dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan.

Meski suka internet dan teknologi digital serta kagum pada teknologi robotik, saya masih senang melakukan sesuatu dengan tangan. Termasuk misalnya mencampur tahi sapi kering menjadi pupuk organik.

Itu sains dan teknologi sederhana yang mudah dijangkau dan sesuai dengan realitas desa tempat saya tinggal di kaki Gunung Sindoro, Jawa Tengah.

*wartawan senior, kini tinggal di Lampung halamannya di desa di Wonosobo, Jawa Tengah. Saat ini sedang berkeliling Indonesia dalam Ekspedisi Indonesia Baru.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini