DUNIA ekonomi gelisah. IMF (International Monetary Fund) memprediksi 2023 adalah tahun resesi ekonomi.

Presiden Joko Widodo pun ikut ketar-ketir. Prediksi IMF tampaknya mulai tampak. Jokowi mengingatkan, agar semua pihak hati-hati dan waspada. Sebab kondisi ekonomi global sedang tidak baik-baik saja. Saat ini, kata Jokowi, sudah ada 16 negara yang jadi pasien IMF. Yang sedang antri untuk jadi pasien IMF berikutnya, 47 negara. Luar biasa.

Indonesia adalah bagian dari ekonomi global yang tak terpisahkan dari resesi dunia. Pasca pandemi Covid-19 yang mengharu-biru perekonomian dunia, jelas Jokowi, pasti mempengaruhi ekonomi nasional.

“Banyak yang belum memiliki perasaan yang sama. Bahwa kita sekarang ini berada dalam kegentingan global. Kita merasa normal-normal saja padahal keadaan semua negara, termasuk Indonesia itu, berada pada kegentingan global,” ungkap Jokowi dalam Rapat Koordinasi Nasional dan Musyawarah Dewan Partai Partai Bulan Bintang di Kelapa Gading, Jakarta, dikutip Selasa (17/1/2023). Kondisi resesi ini, tambah Presiden, dialami hampir semua negara.

Penyebab kegentingan ekonomi global di atas adalah Pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina. Celakanya, meski di sebagian besar negara di dunia pandemi Covid-19 dianggap sudah selesai, tapi di China belum. Padahal China adalah kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS).

Angka infeksi Covid-19 di China, misalnya, masih belum melandai sampai sekarang. Kemudian, perang Rusia dan Ukraina belum juga berakhir. Kedua kasus itu berpengaruh besar terhadap magnitude krisis ekonomi global tadi.

Pada saat yang sama, dunia mengalami krisis energi dan pangan. Inflasi melonjak liar — membuat negara maju seperti AS menaikkan suku bunga acuan dengan agresif. Langkah Washington tersebut menimbulkan gejolak di pasar keuangan.

“Kita diincar ancaman dan risiko-risiko, baik yang namanya resesi keuangan, krisis pangan, krisis energi, dan inflasi yang sangat tinggi. Bahkan IMF menyatakan, di tahun 2023 sepertiga ekonomi dunia mengalami resesi,” kata Jokowi.

Jokowi mengungkapkan ramalan sepertiga dunia bakal jatuh ke jurang resesi tersebut adalah yang terbesar dalam dua dekade terakhir. Sepertiga ekonomi dunia itu, artinya jika di dunia ada 200 lebih negara, 70 negara akan mengalami resesi,” ungkapnya. Jumlah tersebut, jauh lebih besar dari krisis ekonomi global 1997-1998.

Solusi UMKM

Di tengah situasi ketidakpastian ekonomi global yang kian meningkat, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bisa menjadi penyelamat jika kehadirannya dapat dimaksimalkan. Pengalaman membuktikan bahwa selama masa-masa sulit sebelumnya, seperti krisis 1998 dan masa pandemi covid-19, UMKM menjadi garda terdepan yang dapat bertahan dan menjadi solusi dalam menghadapi masalah ekonomi. UMKM, selain sumbangannya sangat besar terhadap PDB, juga banyak menyerap tenaga kerja. Ini berarti UMKM dapat mengatasi pengangguran akibat resesi.

Dari data Kemenkop, kontribusi UMKM terhadap PDB dari tahun ke tahun terus bertambah. Tahun 2017, kontribusinya 57, %, tahun 2018 (57,8%), tahun 2019 (60,3%), tahun 2020 (37,3%), dan tahun 2021 (61,07%).

Terlihat tahun 2020, kontribusi UMKM terhadap PDB menurun karena saat itu pandemi sedang berada di puncak. Tapi begitu pandemi mereda, tahun 2021, sumbangan UMKM terhadap PDB naik tajam, 61,07% – lebih dari separuh PDB. Luar biasa.

Sumbangan UMKM terhadap penyerapan tenaga kerja juga dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2017, tenaga kerja yang terserap 116,4 juta. Tahun 2018 (117 juta). Dan tahun 2019 (119,6 Juta).

Dari gambaran di atas, Indonesia mempunyai potensi basis ekonomi nasional yang kuat karena jumlah UMKM yang amat banyak. Terutama usaha mikro yang daya serap tenaga kerjanya sangat besar.

Indonesia memiliki 65,5 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada 2019. Jumlah itu meningkat 1,98% dibandingkan pada 2018 yang sebanyak 64,2 juta unit.
Jika dirinci, maka jumlah usaha mikro pada 2019 mencapai 64,6 juta. Sebanyak 798,7 ribu unit merupakan usaha kecil. Sedangkan 65,5 ribu unit adalah usaha menengah.

Jumlah UMKM tersebut setara dengan 99,99% dari total unit usaha di Indonesia. Bandingkan dengan usaha besar yang jumlahnya hanya mencapai 0,01% dari total unit usaha di negeri ini.

Di samping itu, ketergantungan UMKM terhadap nilai dolar sangat kecil. Sehingga naik turunnya nilai dolar di dunia tidak akan berpengaruh besar terhadap perkembangan UMKM. Inilah yang menjadi alasan utama UMKM menjadi solusi dalam krisis ekonomi.

Dengan melihat gambaran tersebut di atas, maka pemerintah perlu menerapkan kebijakan dan regulasi yang baik dan menjanjikan untuk meningkatkan peran UMKM agar dapat terus tumbuh dan berkembang. Dalam hal ini, pemerintah perlu menggandeng pihak perbankan, swasta, serta BUMN agar semua pihak dapat membuat skema permodalan yang mudah diakses oleh para pelaku usaha UMKM.

Mudah-mudahan Indonesia bisa terlepas dari krisis ekonomi global 2023 berkat UMKM.

*Dr HM Amir Uskara, anggota DPR RI/Ketua Fraksi PPP DPR RI, juga ekonom

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini