oleh Bani Saksono*

HARI Ahad (1/8/2021) pagi, dalam perjalanan udara menuju Puncak Jaya dari bandara Soetta di Cengkareng. Di pesawat saat transit di Bandara Hasanuddin di Maros, dekat Makassar, saya duduk diapit dua pria.

Di kursi dekat jendela adalah pemuda yang habis pulang kampung di Bulukumba dan hendak kembali bekerja di Jayapura, ibukota Provinsi Papua. Satu lagi, yang duduk dekat selasar adalah seorang bapak muda. Kelihatan muda dari tampang dan karena memang punya empat anak, laki-laki semua. Yang bungsu berumur sembilan bulan, masih digendong ibunya karena belum bisa jalan.

Awalnya, bapak muda yang mengaku bekerja di Freeport ini berkeluh, mau bepergian sekarang sedang susah-susahnya. “Naik pesawat sekarang itu sangat merepotkan,” tutur pria berbaju putih lengan panjang dengan topi di kepala yang dipasang terbalik.

Keluhan pertama yang dia lontarkan, gara-gara belakangan masuk pesawat, sulit menjangkau tempat duduk deretan 6 dan 7. Enam kursi di urutan 6 sudah diduduki orang. Demikian juga satu kursi deret 7 di samping saya, sudah diisi seorang lelaki tengah baya. Parahnya bagasi di atas bangku nomor 6 dan 7 sudah penuh, padahal barang bawaannya cukup banyak, empat tas tentengan dan satu kardus.

Untung, dua pramugari segera datang dan membantu. Setelah memeriksa bendel tiket milik keluarga muda itu, dengan santun sang pramugari meminta semua penumpang yang duduk tidak pada tempatnya untuk pindah. Pramugari satunya membantu mencarikan bagasi yang masih kosong.

Pembicaraan kedua, apalagi kalau bukan soal pandemi covid-19. Salah satu prasyarat naik pesawat harus lolos tes atas swab PCR. Sudah Mahal, hasilnya tanda tanya. Si bapak menyebut di Banda tarifnya Rp600 ribu per orang. Saya sendiri di Klinik Gaharu, Tapos, Depok dikenai beaya Rp700 ribu.

Dia hampir putus asa. Sudah beli tiket dari Banda di kepulauan Maluku bagian selatan ke Timika di Papua di timur. Apa jadinya kalau sampai batal atau tertunda. Gara-garanya, hasil tes PCR si bungsu positif, padahal tiga kakaknya dan ibu bapaknya semua negatif.

Kok bisa si bungsu positif sendirian, padahal secara fisik kelihatan sehat wal afiat. Untung, kata dia, Tuhan memberi jalan keluar hingga perjalanan dari kampung halaman istrinya di Banda ke rumahnya sekarang di Timika berjalan lancar.

Saat last minute, dia bertanya dan mengeluh ke petugas klinik, mengapa hasil swap PCR-nya tidak seragam negatif semua. Jawab yang diterima sangat enteng dan berbau solutif, “mengapa Bapak tidak bilang dari kemarin saat hendak dites, bilang hendak naik pesawat.” Hasil akhir dari jawaban petugas klinik itu jelas sudah bisa ditebak. Rombongan keluarga itu akhirnya bisa terbang ke Timika.

Rute pesawat yang dia tumpangi itu memang muter-muter. Dari Banda, transit ke arah barat yaitu di Makassar, padahal Timika di timur. Dari Makassar, tentu tidak langsung Timika, tapi mampir dulu di dua tempat. Ke Biak, lalu Jayapura.

Saat berhenti di bandara Sentani, Jayapura, terlihat wajahnya sumringah. “Alhamdulillah, pesawat langsung ke Timika, jadi kami tidak harus turun dan ganti pesawat,” tutur lelaki putra Papua asli ini.

Sebaiknya, justru saya yang harus turun, karena tiket penerbangan memang hanya sampai Sentani. Untuk ke Puncak Jaya yang ada di kawasan pegunungan tengah Papua, saya harus ganti pesawat dan beda hari lagi. Jadi terpaksa menginap di Jayapura, untuk mengurus izin masuk Kota Mulia, ibukota Kabupaten Puncak Jaya, serta menunggu jadwal keberangkatan tiba.

Di masa pandemi covid-19, penerbangan Jayapura ke Puncak Jaya hanya ada di hari Selasa dan Kamis. Harusnya, kami, saya dan seorang teman, dijadwalkan swab/tes antigen Senin (2/8/2021) sore, tempatnya di dekat bandara. Karena, esok hari sudah akan terbang ke bandara Mulia.

Kabar tentang Mulia, pada Senin, hujan gerimis pagi hari. Pagi dan sore, kota kecil itu diliputi kabut. Suhu udara cukup dingin, sekitar 8°C. Untung bawa jaket tebal. Yang belum di tangan adalah pil kina, obat penangkal nyamuk malaria. Apotek di Jakarta dan Depok yang saya datangi  tak ada yang jual.

Senin menjelang sore dapat kabar dari Mulia. Kami tak bisa ke sana dan harus menjalani karantina hingga Kamis di Jayapura. Semula karantina seminggu dijalani di Mulia. Di masa Permberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pandemi covid-19, Pemkab Puncak Jaya sangat selektif terhadap pendatang yang tidak punya KTP setempat.

Kabar dari Istana Bogor menjelang tengah malam, Presiden Jokowi mengumumkan perpanjangan masa PPKM dari semula sejak 26 Juli hingga 2 Agustus 2021, menjadi 3-9 Agustus 2021. Syukur, Puncak Jaya tidak masuk daftar Kabupaten atau kota yang harus melanjutkan masa PPKM. (+)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini