JAKARTA (Eksplore.co.id) – Obat diperlukan sebagai sarana untuk membantu menyembuhkan kita dari berbagai penyakit dan sakit. Namun, penggunaan obat yang tidak tempat justru berakibat sebaliknya.  Sakitnya tak sembuh-sembuh.

Karena itu, edukasi penggunaan dan pengelolaan obat secara benar perlu disosialisasikan ke masyarakat.  Universitas Gunadarma bekerjasama dengan Indonesian Drug Campaign (IDC) mengadakan kegiatan  sosialisasi edukasi penggunaan dan pengelolaan obat yang baik dan benar.

Program yang dikemas dalam  kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) itu disampaikan kepada anggota kelompok PKK RT.013/RW.008, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Sabtu, 14 Januari 2023.

Kegiatan PKM ini merupakan hasil kerjasama lintas program studi (prodi) di Universitas Gunadarma, yaitu; Prodi Farmasi, Kebidanan, Ekonomi, dan Ilmu Komunikasi. Di antara dosen yang hadir adalah Agus Kurniawan, M.Farm, apt. Eka Pebi Hartianti, M.Farm , Dr. Siti Mardiyanti, M.Farm, dan Nadya Tsurayya, M.S.Farm. Semuanya dari Prodi Farmasi.

Nadya tak lain juga tercatat sebagai  founder & CEO Indonesian Drug Campaign (IDC). Hadir pada acara itu Ketua RT 013 RW 008, Mamit SHR Dan mahasiswa S1 Farmasi Universitas Gunadarma.

Nadya menjelaskan, edukasi penggunaan dan pengelolaan obat yang baik dan benar merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan masyarakat melalui kegiatan pelayanan kesehatan oleh tenaga kefarmasian.

Masyarakat diharapkan perlu tahu dan sadar akan pentingnya pengelolaan obat mulai dari mendapatkan obat hingga membuangnya jika sudah tidak diperlukan. “Sehingga dampak negatif dari pengelolaan obat yang tidak baik akan berkurang dan terhindar,” katanya.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini, kata Nadya, dilakukan melalui penyuluhan edukasi penggunaan dan pengelolaan obat yang baik dan benar. Dia pun mencontohkan tentang  informasi terkini penggunaan obat sirup yang sempat menjadi isu akibat gagal ginjal akut. Kasus itu sempat merebak secara bersamaan di beberapa provinsi di Indonesia.

Informasi penggunaan obat yang disampaikan juga di antaranya tentang  frekuensi konsumsi obat. “Jika instruksi penggunaan obat 3 kali sehari maka artinya obat tersebut diminum setiap 8 jam sekali sedangkan jika 2 kali sehari maka obat tersebut diminum setiap 12 jam sekali,” tutur Nadya lagi.

CEO IDC ini menambahkan, yang disampaikan kepada ibu-ibu anggota PKK tersebut juga tentang informasi penggunaan antibiotik yang benar yaitu harus dihabiskan untuk mencegah resistensi antibiotik.

“Juga tentang penggunaan obat sirup saat ini. Yang perlu diperhatikan adalah daftar obat sirup yang sudah diverifikasi keamanannya dari cemaran EG dan DEG oleh BPOM melalui link bit.ly/bpom-sirup-obat-aman,” tuturnya. (bS-)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini