oleh Iskandar Harjodimuljo*

ALHAMDULILLAH tadi malam ceramah sholat Tarawih di malam terakhir di bulan Romadhon telah saya bawakan di Masjid Al Husna, Blok D, Pengok, Demangan, Gondokusuman, Yogyakarta. Persisnya masjid terletak Di depan rumah.

Dari Wali Songo sebagai Majelis Dakwah pertama kali yang didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) tahun 1404 Masehi (808 Hijriyah). Majelis Dakwah Wali Songo ini terdiri: Sunan Gresik, Maulana Ishaqv(Sunan Wali Lanang), Maulana Ahmad Jumadil Qubro (Sunan Qubrowi), Maulana Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanudin, Maulana Aliyyudin, dan Syekh Subakir.

Dan selanjutnya saya ceritakan perjalanan Raden Rahmad yang kelak kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Ampel. Perjalanan Raden Rahmad, dari negeri negeri Campa ke tanah Jawa untuk menemui uwaknya Prabu Brawijaya. Yang akhirnya setelah sampai di Majapahit menetap di Ampeldenta.

Dari sinilah syiar Islam dilakukan lewat budaya. Sunan Ampel bahkan menciptakan tembang-tembang hingga terkenal sampai kini. Raden Rahmat menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Wilwatikta. Darinya menurunkan empat putra: Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifudin (Sunan Drajat), Putri Nyai Ageng Maloka, dan Dewi Sarah ( Istri Sunan Kalijaga).

Konon versi yang lain Sunan Ampel juga mempunyai 6 anak. Salah satu putrinya dinikahi oleh Raden Patah yang kelak menjadi Raja. Yaitu Sultan pertama Demak. Di era Raden Patah sebagai keturunan dari Prabu Brawijaya dengan putri Campa. Alat alat kesenian seperti gamelan, wayang diboyong ke Demak Bintara.

Oleh Sunan Kalijaga setelah direvolusi dari wayang yang menyerupai manusia di era Majapahit yaitu 3 dimensi diubah menjadi dua dimensi. Atau yg tadinya realistik proporsional seperti yang ada di relief-relief candi diubah menjadi wayang imajinatif seperti wayang sekarang. Juga banyak tambahan dan pembaharuan dengan peralatan seperti kelir/ layar, lampu blencong, debog (batang) pohon pisang untuk menancapkan wayang.

Pentas pertama kali pada acara peringatan Maulud nabi. Di samping di tnton rakyat juga ditonton Sultan Trenggono, juga para Wali. Sunan Kalihaga juga menciptakan Wayang Topeng yang sekarang berkembang di Malang dan Cirebon. Sedang Sunan Kudus menciptakan Wayang Golek.

Para wali dan Pujangga terus-menerus mengadakan pembaharuan wayang sebagai media dakwah. Isi dan fungsi Wayang telah bergeser dari ritual keagamaan di Jaman Majapahit dan kerajaan2 sebelumnya, menjadi sarana pendidikan, dakwah, penerangan dan komunikasi massa.

Pada jaman Demak, Pajang, Mataram, Kartasura, Surakarta dan Jogjakarta, Mangkunegaran serta Paku Alaman banyak pujangga yang menulis cerita wayang. Atau menciptakan wayang wayang baru, mengkreasikan serta memperkaya budaya wayang.

Seni budaya akan selalu berubah dan berkembang. Perubahan ini tidak berpengaruh terhadap jati diri wayang yang sudah memiliki landasan kokoh. Sedangkan landasan yang kokoh berujud ; Hamot yang artinya: keterbukaan untuk menerima pengaruh dan masukan dari luar. Hamong : Kemampuan untuk menyaring unsur-unsur baru sesuai dengan nilai-nilai wayang yang ada dan selanjutnya, diangkat menjadi nilai-nilai yang cocok untuk wayang sebagai bekal bergerak maju sesuai perkembangan masyarakat.

Hamengkat : atau mengubah sesuatu nilai menjadi nilai-nilai yang baru. Kesemuanya melalui proses panjang dan dicerna dengan cermat. Sehingga wayang kulit nengandung integrasi seni: Seni peran, Seni suara, Seni musik, Seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat serta seni perlambang.

*Iskandar Harjodimuljo, seniman wayang, tinggal di Yogya.

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini